Mengalami Nonton Bola di Prancis

Share
Mengalami Nonton Bola di Prancis
Fontaine des Trois Grâces pada Sabtu, 30 Mei 2026

Kali pertama saya menonton sepak bola di Prancis pada akhir pekan di penghujung Mei—melalui layar di depan kafe-kafe, area Comédie—itu adalah laga final Liga Champions UEFA 2026 antara Paris Saint-Germain (PSG) dan Arsenal. Setelah pertandingan sengit yang imbang 1-1 hingga babak perpanjangan waktu berakhir, PSG akhirnya menang melalui adu penalti dengan skor 4-3. Orang-orang bersorak, saya turut serta dalam kegembiraan itu.

Setelahnya, sembari bergembira, secara alamiah orang-orang berjalan menuju Air Mancur Tiga Graces (Fontaine des Trois Grâces) di tengah-tengah Place de la Comédie, Montpellier. Segala macam hal biasanya dirayakan di sini setiap kali ada pertandingan bola, aksi hari buruh, pride day, atau momen apa pun yang melibatkan banyak warga kota biasanya akan dirayakan dengan berkumpul di sekitar patung tiga dara ini. Patung ini adalah ikon Montpellier yang menggambarkan tiga putri Zeus dalam mitologi Yunani. Mereka adalah Aglaé yang merepresentasikan kecantikan, Euphrosyne, untuk kegembiraan, dan Thalie sebagai simbol kelimpahan.

Patung ini, bersama kafe-kafe, taman, air mancur, pertokoan, rumah makan dan ruang terbuka di sekitarnya, adalah titik temu bagi warga kota, semacam ruang tamu bagi kota Montpellier. Di hari penting, warga akan berkumpul di sana memanjat Air Mancur Tiga Graces, meluapkan kegembiraan ketika tim sepak bola yang didukung menang, misalnya, lalu menyalakan kembang api.

Di hari lain, patung itu akan dipanjat untuk mengibarkan bendera, menunjukkan poster protes, menyalurkan kemarahan, dan meneriakkan tuntutan ke pemerintah, ke sistem yang buruk. Manifestation yang biasa disingkat manif itu adalah kultur harian warga. Tak heran jika ada yang menyatakan bahwa mogok aksi sudah menjadi semacam exercise bagi warga Prancis.


Tak lama setelah Liga Champions UEFA, Piala Dunia dimulai dan lagi saya turut menonton pertandingan bola. Beberapa kali saya menonton di luar rumah, terutama saat Prancis bermain mulai dari babak penyisihan ketika melawan Norwegia. Ini adalah saat Prancis menang telak 4-1 skor terbanyak yang dimilikinya sepanjang bermain di Piala Dunia 2026 ini. Saya bisa ingat skor ini karena malam itu tebakan saya benar – sejak Piala Dunia dimulai, untuk menyalakan euforia dengan beberapa teman di kantor kami membuat game tebak-tebakan skor yang taruhannya 2 euro hingga babak penyisihan berakhir.

Namun, bagiku, tensi yang terasa berbeda di Prancis adalah saat memasuki perempat final, pertandingan antara Prancis melawan Maroko. Hari itu, di berbagai sudut kota, sejak siang hari, orang-orang mulai menggunakan jersey kebanggaan mereka, antara biru-putih dan merah-putih. Banyak yang bajunya bertuliskan Hakimi atau Mbappé. Hal ini adalah bagian yang saya sukai dari menonton bola Prancis, di mana orang-orang bebas menyuarakan dukungannya ke negara mana pun tanpa memperoleh sentimen rasisme. Begitu pun pada pertandingan sangat penting saat semifinal, Prancis melawan Spanyol, walaupun orang-orang kebanyakan berteriak "Allez les bleus, allez", namun orang-orang Spanyol di Prancis pun tetap bebas berteriak dengan santai " vamos, vamos, la roja, vamos". Tidak ada kemarahan, tidak ada penghakiman. Bagiku inilah bagian dari kegembiraan menonton sepak bola, kesempatan menyalurkan energi, memberi dukungan, bukan menghakimi.

Walau di pertandingan semifinal ini seperti ada energi untuk berpesta yang terpendam– sebab warga Prancis terasa begitu siap menang kali ini, seperti sebelum-sebelumnya mereka memakai jersey biru kebanggaanya, namun kali ini banyak pula yang memakai kalung bunga berwarna biru, putih, merah dan banyak pula yang menonton sambil membawa bendera Prancis, sebab 14 juli merupakan Bastille Day. Jika Prancis menang malam itu, maka itu adalah hari yang paling pas untuk berpesta di seluruh penjuru Prancis, sebab libur nasional, merayakan bola, merayakan hari ketika revolusi Prancis dimulai ketika tembok Bastille diruntuhkan. Tapi dalam pertandingan bola sepertinya kita bisa mengalkulasi siapa yang unggul dan biasa saja, tapi pemenang hanya bisa ditentukan setelah wasit meniup peluit panjang.

Selepas pertandingan, saya menuju tram untuk pulang, di tengah-tengah Comedie orang-orang tetap berkumpul lalu akhirnya ada yang tetap melepas kembang api ke udara jelas bukan untuk merayakan kemenangan Prancis atas Spanyol, tapi barangkali untuk terus mengingat bahwa rakyat bisa melawan kesewenang-wenangan. Kalah menang dalam pertandingan bola bukan masalah besar, tapi yang paling utama percik api melawan tiran yang perlu senantiasa dihidupkan. Dan kemenangan Spanyol yang berturut-turut hingga menjadi juara Piala Dunia 2026 juga menjadi cerita bola menyenangkan untuk disaksikan, terutama gestur para pemain menghadapi trump di hari kemenangan, dan postingan resmi yang meniadakan foto orang tua bangka penyebab perang ini memang tidak pantas ada di sana.

Dari sini saya mulai belajar bagaimana bola bisa menjadi begitu politis, kemenangan Spanyol yang memicu kembali kesadaran kolektif kita untuk terus meneriakkan lagi dan lagi, kemerdekaan bagi bangsa Palestina, sekali lagi, kemerdekaan bagi bangsa Palestina. Juga untuk melawan ragam bentuk kebencian dan rasisme terhadap kulit berwarna dan imigran di seluruh dunia.


Yah, pada akhirnya dalam pemahamanku terbatas saya menyukai menonton sepak bola – walau sampai sekarang, tentu saja belum sepenuhnya memahami segala macam aturannya, mengenal segala macam liga, nama club, pemain dan lain-lain– tapi kesempatan menonton bola bersama, dari jaman kecil bersama bapakku, lalu di usia dewasa ini bersama teman dan kolegaku, atau kadang juga di antara orang asing yang tidak ku kenali, rasanya sama selalu menyenangkan.
Seperti ada latihan untuk mengalami perasaan yang sesungguhnya, bersorak ketika menang, dan belajar menerima ketika kalah. Dalam pertandingan bola di antara para pelatih, pemain, dan penonton, saya melihat bagaimana interaksi sesama manusia tetap saja menjadi hal yang begitu penting. Misal, pelukan menjadi ruang berbagi kegembiraan ketika gol-gol berhasil dicetak; begitu pun ketika kekalahan datang, pelukan di antara para pemain, pelatih, atau para penonton tampak menjadi ruang berbagi empati.